Kamis, 09 Mei 2013

Tugas 3 - Suku bunga perbankan dengan pemberian kredit khususnya usaha kecil dan menengah

                                                Kredit Usaha Rakyat


Abstrak
            Di Indonesia masyarakat yang sedemikian rupa banyaknya masih banyak sekali yang tidak mempunyai penghasilan atau pun pekerjaan yang bisa menambah taraf hidup mereka. Apalagi dijaman sekarang yang sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak serat lebih memilih untuk menerima yang berpendidikan. Jika seperti itu bagaimana dengan yang berpendidikan rendah? Apa mereka akan terus menganggur tanpa pekerjaan?
            Disinilah pemerintah menciptakan program KUR (kredit usaha rakyat) yang di peruntukan untuk rakyat kecil dan menengah yang ingin membuka usaha. Ini bekerjasama dengan berbagai Bank dengan bung dan pinjaman yang sudah di tentukan dari pihak Bank.
            Dengan begitu masyarakat juga bisa belajar menbuat usaha kecil. Setidaknya dapat memperbaiki taraf hidup mereka dibandingkan tidak mempunyai pekerjaan dan menjadi pengangguran. Karena dengan modal yang diberikan oleh Bank mereka bisa membuat berbagai macam usaha yang mereka bisa.

Pendahuluan
            Dengan di adakannya program kredit usaha rakyat ini diharapkan agar masyarakat bisa menjadi masyarakat yang mempunyai pengetahuan dan dapat belajar menjadi pengusaha kecil. Maka pemerintah harus bisa memperhatikan lagi agar program ini terus berjalan.
            Banyak manfaat dan tujuan yang bisa di ambil dari progaram kredit usaha rakyat ini. Entah bagi pemerintah mauapun masyarakatnya. Sasaran program KUR adalah kelompok masyarakat yang telah dilatih dan ditingkatkan keberdayaan serta kemandiriannya pada kluster program sebelumnya.Harapannya agar kelompok masyarakat tersebut mampu untuk memanfaatkan skema pendanaan yang berasal dari lembaga keuangan formal seperti Bank, Koperasi, BPR dan sebagainya.Dilihat dari sisi kelembagaan, maka sasaran KUR adalah UMKMK (Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi).Sektor usaha yang diperbolehkan untuk memperoleh KUR adalah semua sektor usaha produktif.
            Dengan begitu diharapkan juga masyarakat menjadi lebih baik kehidupannya, bisa meningkatkan taraf hidup mereka serta bisa menigkatkan pendapatan negata juga karena pedapatan masyaraktnya pun bertambah.

Landasan Teori
            Bunga bank merupakan kelebihan uang yang diberikan oleh pihak bank kepada nasabah yang menggunakan pelayanannya baik untuk membeli atau menjual produk. Atau juga kelebihan uang yang diberikan kepada nasabah yang memiliki sejumlah uang yang disimpan di bank baik dalam bentuk tabungan deposito maupun tabungan berjangka.
Suku bunga bank antara satu bank dengan bank lainnya berbeda. Ada yang menetapkan bunga tinggi ataupun rendah. Biasanya suku bunga yang tinggi diberikan jika nasabah melakukan transaksi dalam jumlah besar dan jumlah transaksi kecil diberikan bunga yang rendah. Atau bisa juga jumlah besar kecil ini tergantung pada kebijakan yang diberlakukan di bank itu sendiri tidak terkait dengan faktor eksternal bank.
Dua jenis suku bunga bank meliputi kelebihan uang dari yang berasal dari simpanan uang yang diberikan bank kepada nasabah dan bunga pinjaman yang merupakan bunga yang harus dibayarkan nasabah ke bank karena pinjaman yang dilakukannya.
Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan program yang termasuk dalam Kelompok Program Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan Usaha Ekonomi Mikro dan Kecil (klaster 3).Klaster ini bertujuan untuk meningkatkan akses permodalan dan sumber daya lainnya bagi usaha mikro dan kecil
KUR adalah skema kredit/pembiayaan modal kerja dan atau investasi yang khusus diperuntukkan bagi Usaha Mikro Kecil Menengah dan koperasi (UMKMK) di bidang usaha produktif yang usahanya layak(feasible) namun mempunyai keterbatasan dalam pemenuhanpersyaratan yang ditetapkan Perbankan (belum bankable). KUR merupakan program pemberian kredit/pembiayaan dengan nilaidibawah 5 (lima) juta rupiah dengan pola penjaminan olehPemerintah dengan besarnya coverage penjaminan maksimal 70% dari plafon kredit. Lembaga penjaminnya adalah PTJamkrindo dan PT Askrindo

Pembahasan
1.     Tujuan pelaksanaan program KUR
Tujuan program KUR adalah mengakselerasi pengembangan kegiatan perekonomian di sektor riil dalam rangka penanggulangan dan pengentasan kemiskinan serta perluasan kesempatan kerja. Secara lebih rinci, tujuan program KUR adalah sebagai berikut:
·       Mempercepat pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah, danKoperasi (UMKMK)
·       Meningkatkan akses pembiayaan dan mengembangkanUMKM & Koperasi kepada Lembaga Keuangan
·       Sebagai upaya penanggulangan / pengentasan kemiskinandan perluasan kesempatan kerja

2.         2. Usaha produktif, Usaha layak dan Belum bankable?
Usaha Produktif adalah usaha untuk menghasilkan barang atau jasa untukmemberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan bagi pelaku usaha.
Usaha Layak adalah usaha calon debitur yang menguntungkan/memberikan labasehingga mampu membayar bunga/marjin dan mengembalikan seluruh hutang/kewajiban pokok Kredit/Pembiayaan dalam jangka waktu yang disepakati antara Bank Pelaksana dengan Debitur KUR.
Belum Bankable adalah UMKMK yang belum dapat memenuhi persyaratanperkreditan/ pembiayaan dari Bank.

3.        3.  Ada tiga (3) pilar penting dalam pelaksanaan program ini:
a.     Pemerintah, yaitu Bank Indonesia (BI) dan Departemen Teknis (Departemen Keuangan, Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Perindustrian, dan Kementerian Koperasi dan UKM).Pemerintah berfungsi membantu dan mendukung pelaksanaan pemberian berikut penjaminan kredit.
b.     Lembaga penjaminan yang berfungsi sebagai penjamin atas kredit dan pembiayaan yang disalurkan oleh perbankan.
c.      Perbankan sebagai penerima jaminan berfungsi menyalurkan kredit kepada UMKM dan Koperasi.
Bertindak sebagai lembaga penjaminan dalam program ini adalah PT. (Persero) Asuransi Kredit Indonesia (PT. Askrindo) dan Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo).Sedangkan pihak ketiga yaitu Bank Penyalur terdiri dari enam (6) Bank Umum dan tigabelas (13) Bank Pembangunan Daerah (BPD). Keenam Bank Umum penyalur KUR sampai saat ini adalah Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BTN, Bank Syariah Mandiri dan Bank Bukopin. Adapun 13 BPD penyalur KUR diantaranya adalah: Bank Nagari, Bank DKI, Bank Jatim, Bank Jateng, BPD DIY, Bank Jabar Banten, Bank NTB, Bank Kalbar, Bank Kalteng, Bank Kalsel, Bank Sulut, Bank Maluku dan Bank Papua.

4.         4. Usaha MIkro, Kecil, Menengah dan Koperasi
§  Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usahaperorangan yang memenuhi kriteria: memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.50.000.000,- (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) atau memiliki hasilpenjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,-
§  Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar. Kriterianya adalah memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,- s/d Rp. 500.000.000,- (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) atau memilikihasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,- s/d Rp. 2.500.000.000,-
§  Usaha Menengah adalah Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Besar. Kriterianya adalah: memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,-s/d Rp. 10.000.000.000,- ( tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.2.500.000.000,- s/d Rp. 50.000.000.000,-
§  Koperasi adalah Badan Usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asaskekeluargaan.

5.          5.  Cara UMKMK mendapatkan KUR dari Bank Pelaksana
v UMKMK mengajukan surat permohonan KUR kepada Bank dengan melampiridokumen seperti legalitas usaha, perizinan usaha, catatan keuangan dansebagainya.
v Bank mengevaluasi/analisa kelayakan usaha UMKMK berdasarkan permohonanUMKMK tersebut.
v Apabila menurut Bank usaha UMKMK layak maka Bank menyetujui permohonan KUR. Keputusan pemberian KUR sepenuhnya merupakan kewenangan Bank.
v Bank dan UMKMK menandatangani Perjanjian Kredit/Pembiayaan.
v UMKMK wajib membayar/mengangsur kewajiban pengembalian KUR kepadaBank sampai lunas.
   
6.     Persyaratan umum bagi UMKMK untuk dapat menerima KUR
§  Tidak sedang menerima kredit/pembiayaan dari perbankan dan/atau yang tidaksedang menerima Kredit Program dari Pemerintah;
§  Diperbolehkan sedang menerima kredit konsumtif (Kredit Kepemilikan Rumah, KreditKendaraan Bermotor, Kartu Kredit dan kredit konsumtif lainnya);
§  Bagi UMKMK yang masih tercatat Sistem Informasi Debitur BI, tetapi yang sudahmelunasi pinjaman, maka diperlukan Surat Keterangan Lunas dari Bank sebelumnya;
§  untuk KUR Mikro, tidak diwajibkan untuk dilakukan pengecekan Sistem InformasiDebitur Bank Indonesia.

Putusan pemberian KUR sepenuhnya menjadi kewenangan Bank Pelaksana, sesuai dengan hasil analisa kelayakan usha calon debitur. Persyaratan umum bagi UMKMK untuk dapat menerima KUR
·       Dokumen legalitas dan perizinan yang minimal ada pada saat debitur mengajukanKUR kepada Bank antara lain:
·       Identitas diri nasabah, seperti KTP, SIM, Kartu Keluarga, dll.
·       Legalitas usaha, seperti akta pendirian, akta perubahan
·       Perzinan usaha, seperti SIU, TDP, SK Domisili, dll
·       Catatan pembukuan atau laporan keuangan
·       Salinan bukti aguna

Penutup
Kesimpulan
            Jadi intinya program Kredit Usaha Rakyat di peruntukan untuk masyarat yang ingin berwirausaha dengan berbagai persyaratan dan Pemerintah bekerja sama dengan berbagai jumlah Bank yang ada di Indonesia serta dengan tingkat pinjaman bunga yang berbeda-beda pula.
            Serta banyak juga tujuan yang akan di capai dari program kur tesebut. Semoga dan diharapkan dapat selalu menyejahterakan masyarakat Indonesia yang tidak mempunyai pekerjaan. Bisa menambah pengetahuan akan Bank dan usaha-usaha. Jadi juga dapat mengurangi pengangguran di Indonesia.


Daftar Pustaka


Rabu, 08 Mei 2013

Tugas 2 -Persaingan Harga Produk Dalam Negeri Versus Harga Produk Luar Negeri dilihat dari tingginya biaya produksi

                                              Besarnya Kegiatan Import Produk


ABSTRAKSI
            Semua manusia pasti mempunyai kebutuhan dan keinginan. Dan semua kebutuhan keinginan itu pasti akan di lakukan agar semuanya terpenuhi. Apalagi masalah kebutuhan yang sudah pasti harus terpenuhi. Kebutuhan itu terbagi menjadi kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan seperti makan, minum, pakaian pasti harus terpenuhi. Beda dengan keinginan. Bahkan sekarang barang yang tadinya hanya sebagai barang keinginan saja bisa menjadi barang kebutuhan yang harus manusia penuhi untuk kehidupannya sehari-sehari.
            Oleh karena itu masyarakat Indonesia yang umumnya merupakan masyarakt konsumtif selalu ingin saja barang-barang yang keluaran baru. Contohnya saja masalah pasar gedejet. Perusahaan gedjet selalu mengeluarkan produk-produknya yang kemudian di pasarkan ke Indonesia. Bukan hanya dalam masalah barang-barang gedjet, Indonesia pun banyak mengimpor barang dari luar negeri. Keadaan seperti ini lah yang menyebabkan kebutuhan di Indonesia lebih mahal, karena pemerintah memakai produk-produk luar negeri ketimbang dalam negeri. Contohnya saja beras dan bawang.  
            Bisa diperhatikan kabar berita bahwa bawang melonjak harga yang cukup mencengankan. 1kg bisa mencapai 60rb. Sedangkan masyrakat Indonesia saja bukan hanya dari kalangan atas. Bagaimana nasib kalangan bawah, yang perekonomiannya kurang bisa memikirkan hal yang tidak bisa mengimbangi pendapatan mereka. Yang seharusnya uang 60rb bisa membeli berbagai kebutuhan pangan tetapi ini hanya bisa untuk membeli bawang.

PENDAHULUAN
Dizaman era globalisasi ini kita harus mengetahui perkembangan perekonomian Indonesia terutama pada masalah persaingan harga produk. Baik produk dalam negeri maupun produk luar negeri. Dengan mengetahui harga-harga pasar dalam persaingan tersebut kita bisa mengatahui kondisi ekonomi yang terjadi. Apa lagi pada saat tingkat produksi tinggi. Mau tidak mau negara pun harus mengikuti perkembangan harga yang terjadi pada sistem perekonomian tersebut.
Pada saat itu juga, jika ada perubahan pada harga-harga akan mempengaruhi perekonomian suatu negara juga. Karena negara harus bisa memikirkan bagaimana bisa mengimbangi harga pasar Internasional dan juga dibarengi dengan bisa mensejahterakan masyarakatnya. Pemerintah juga harus memperhatikan barang-barang yang di impor. Jangan semua barang pokok harus impor dari luar. Pemerintah juga harus lebih memperhatikan produk dlam negeri yang tidak kalah bagus kualitanya di banding luar nengeri.
Setidaknya pemerintah juga menyarankan agar masyarakat lebih menggunakan produk dalam negeri di banding luar nengri. Sebetulnya ada beberapa faktor yang nyebabkan pemerintah harus mengimpor produk dari luar negeri. Seperti terbatasnya bahan yang di perlukan untuk membuat barang tersebut. Ada juga keterkaitan biaya, dan masih banyak lagi.
  
LANDASAN TEORI

            Import adalah kegiatan membeli barang dan jasa dari negara lain. Ketika sebuah negara mengalami impor yang besar itu artinya negara tersebut mengalami defisit. Dan akan menyebabkan negara tersebut akan mempunyai utang. Ambil saja contoh dari negara China. China mungkin menghasilkan produk yang lebih murah tetapi dengan kualitas yang kurang. China menciptakan barang yang memang diperlukan oleh masyarakat dan tidak terlalu mementingkan kualias. 
            Pemerintah juga harus menerapkan peraturan baru agar tidak terajadi impor barang yang terlalu, karana akan menyebabkan negara menjadi semakin terpuruk dan utang negara juga akan menjadi menumpuk. Serta pengusaha Indonesia akan lebih menjadi penyalur barang luar negeri dibanding memproduksi barang,
            Di dalam masalah harga pun jika Indonesia lebih sering impor bahan dari luar akan menyebabkan harga di Indonesia lebih mahal. Dan para pedagang akan bingung menjual produk yang harus menyesuaikan harga dengan bahan yang di peroleh. Bahan yang susah di dapat di Indonesia ini yang juga bisa menyebabkan pemerintah mengimpor bahan dari luar, tetapi harus diperhatikan juga sebagaimana perlunya bahan itu di impor. Karena secara tidak langsung jikan terlalu mengimpor barang, pemerintah tidak menghargai pproduk dalam negeri sendiri dan hasil dalam negeri.

PEMBAHASAN
A. Produk Impor
Pada dasarnya impor barang itu mempunyai tujuan. Jika suatu negara kekurangan bahan untuk memproduksi barang tersebut, maka Indonesia harus mengimpor bahan dari luar. Akan tetapi dengan mengimpor bahan dari luar, harga yang akan ditetapkan pada produk tersebut akan mahal. Dan jika harga mahal, para pedagang dan pembeli pun akan bingung mengimbangi harga pasar. Mau tidak mau para pedagang pun juga akan menaikan harga produk tersebut.
Jika harga barang naik, itu akan mengubah pendapatan perkapita suatu negara. Karena pada dasarnya pun masyarakat Indonesia masih banyak yang hidup di bawah atau yang mendapatkan pendapatan di bawah rata-rata. Ini harus dipertimbangkan lagi untuk pemerintah.
B. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kurangnya Bahan Baku
            Sudah dipastikan jika Indonesia kekurangan bahan baku maka pemerintah akan menimport bahan dari luar. Yang menjadi kurangnya bahan baku tersebut biasanya dari bahan baku yang di dalam mahal. Para produsen tidak sanggup untuk membeli bahan baku tersebut. Ada pula faktor cuaca yang menyebabkan bahan baku itu tidak dapat untuk diproduksi. Para produsen pun bingung untuk mencari alternatif bahannya.
            Ekspor merupakan kegiatan menjual barang atau jasa kenegara lain sedangkan Impor adalah membeli barang atau jasa dari negara lain. Secara umum ekspor impor dibedakan menjadi dua yakni barang migas dan non-migas, migas merupakan barang tambang minyak bumi dan gas berkebalikan dengan non-migas yaitu barang hasil perkebunan,peternakan,perikanan,pertanian dsb. Kegiatan impor biasanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rakyat atas keterbatasan barang/jasa lokal. Ekspor kegiatan yang dilakukan untuk menambah pendapatan negara dan atas permintaan pasar yang ingin meng-impor barang/jasa dari lokal.
            Siapa yang tak kenal Indonesia negara yang diapit dengan dua benua ini memiliki sebutan negara agraris dan maritim pastinya dapat dibayangkan hasil laut dan tanah yang sungguh luar biasa pasti mampu untuk mensejahterakan rakyat-rakyatnya , namun sebutan tersebut menjadi dilemma tersendiri bagi Indonesia hasil laut dan bumi yang seharusnya mencukupi sepertinya tak mampu menopang kehidupan orang banyak serta perekonomian kita. Pertanian yang seharusnya menjadi ‘alat pemacu’ perekonomian pun nyatanya tak sesubur tanahnya entah apa yang terjadi untuk beras saja kita sampai mengimpor beras dari negara tetangga dan ternyata buah-buahan pun ikut menjadi barang impor yang sudah disediakan oleh Thailand.
Negeri ini begitu luas, tanah nan subur pun terbentang seperti tiada batasnya tetapi mengapa kita masih belum bisa memanfaatkan keadaan alam yang ada. Tanah yang subur pun diharapkan bisa menghasilkan sesuatu yang berkualitas namun apa yang terjadi? nyatanya hal tersebut dimanfaatkan oleh orang-orang berduit unuk mendirikan bangunan megah tanpa memikirkan resikonya. Padahal, pemerintah telah menyediakkan mesin pembajak atau traktor untuk meningkatkan kuantitas pertanian Indonesia tapi sepertinya semua nihil mungkin karena pemanfaatannya kurang maksimal serta pengetahuan petani Indonesia pun masih minim. Masih tak habis fikir sawah ladang membentang luas tetapi masih saja kita mengimpor beras dari luar, jelas saja beras lokal kalah dengan beras impor karena beras lokal relatif lebih mahal ketimbang beras impor, hal semacam ini membuat petani beras kita merugi. Walaupun kita tidak mempunyai hasil dalam negeri seperti gandum tetapi setidaknya kita masih mempunyai hasil unggulan lain dibididang pertanian yang bisa diharapkan dapat menggerakkan perekonomian kita.
            Bagaimana solusi yang berkenaan dengan masalah diatas? Ya, sebagai negeri yang mempunyai andil cukup besar disektor pertanian, hendaknya pemerintah meningkatkan pendidikan untuk sarjana-sarjana pertanian agar kelak bisa membuat atau memperbarui sistem pertanian kita. pemerintah juga harus lebih memprioritaskan serta meningatkan kegiatan pertanian kita. Seperti meningkatkan ahli-ahli kita di bidang pertanian, yang pada saatnya nanti bisa terjadi transfer skill di bidang pertanian kita. serta membuka lapangan usaha yang bergerak dibidang agribisnis yang dinilai cocok dengan keadaan tanah Indonesia yang subur. Sehingga segala lahan dan hasil dapat kita manfaatkan dan rasakan sendiri hasilnya.
            Sektor kelautan dan perikanan Indonesia harus mampu menempuh kebijakan dengan mengambil skenario pangan berkelanjutan untuk mengangani krisis pangan global yang diperkirakan dapat terjadi pada tahun 2025. Sebenarnya, sejak terbukanya pasar China merupakan pe-luang bagi pengembangan ekspor produk ikan Indonesia. Namun, kenyataan di lapangan Indonesia masih belum mampu mengoptimalkan potensi terbukanya pasar ekspor. Justru yang terjadi sebaliknya, pasar domestik dibanjiri produk impor dari China. Menurut pemerintah sektor kelautan dan perikana diyakini mampu memberikan sumbangan ketahanan pangan lokal dan dunia. Maka pemerintah memprioritaskan sektor kelautan dan perikanan sebagai nilai ekspor yang patut diperhitungkan, Indonesia seakan maju terus untuk dapat menembus pasar internasioanal dalam sektor ini dan mensejahterakan perkekonomian rakyat Indonesia. Namun 2 misi tersebut menjadi agak terkendala mengingat peningkatan daya saing komoditas pangan domestik yang dinilai kurang. Entah itu kesejahteraan nelayaannya atau daya jual yang rendah. Maka untuk memantapkan hasil laut kita yang akan ‘beraksi’ dipasar internasional, pemerintah mulai memfasilitasi lebih serius seperti ketersediaan benih, keuangan formal dan revitalisasi industry pengolah.
            Lalu bagaimana penaataan sektor kelautan dan perikanam agar terciptanya kesejahteraan rakyat ? Strategi penataan industri penangkapan, budi daya, dan pengolahan ikan dapat dilakukan baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, renegosiasi secara bilateral Indonesia-China, pengawasan produk ikan impor, penataan total coastguard dan izin penangkapan, dan pen-syaratan kualitas ikan impor perlu dilakukan. Selain itu, strategi perimbangan neraca perdagangan untuk produk ikan dengan China dapat dilakukan dengan mendorong dan memperbesar volume dan nilai ekspor produk ikan Indonesia ke China. Namun, hal itu hanya dapat dilakukan apabilaindustri perikanan tangkap dan budi daya Indonesia cukup kuat untuk menguasai pasar domestik sekaligus masuk ke pasar China. Meskipun terdapat kenaikan rata-rata produksi perikanan sebesar 10,02% untuk periode 2005-2009, jika dibandingkan dengan potensi pasar, kenaikan itu dirasa belum memadai.
            Dalam jangka panjang, strategi memperbesar kapasitas dan produktivitas produk perikanan dapat dilakukan melalui desain industri secara menyeluruh. Program percepatan industri perikanan seperti Minapolitan dan gugus ekonomi berbasis kelautan dan perikanan perlu mendapat dukungan dari semua pihak.Program ini hanya bisa terselenggara secara baik ketika terdapat dukungan sejumlah infrastruktur untuk menjamin proses penangkapan dan industrialisasi terjadi seperti supply BBM, air bersih, pembiayaan, modernisasi kapal, akses jalan, industri pendinginan, penguasaan teknologi, dan SDM.
            Kementerian terkait dengan penyediaan infrastruktur itu perlu mendukung upaya untuk meningkatkan daya saing produk perikanan nasional.
Dibawah ini kondisi Espor-Impor sektor pertanian Indonesia :
1.     1. Beras
Harga Beras (Thai Broken 5%) di Bangkok periode 9 – 23 September 2009 menunjukkan trend meningkat. Tanggal 9 September harga US$ 530 per ton naik 2,71 % dari harga 2 September 2009, kemudian bergerak ke level US$ 533 per ton ( naik 0,57%) pada tanggal 16 September 2009 dan meningkat lagi pada 23 september 2009 menjadi US$ 2. 539 per ton atau naik 1,13 %.
2.     Kedelai
Harga kedelai (No.2 Yellow) di AS masih cenderung turun dan pada tanggal 14 September 2009 harga mencapai level terendah semenjak Juli 2009 yaitu US$ 339,9 per ton dipicu oleh spekulasi akan adanya peningkatan produksi karena cuaca cukup kondusif.
3.     3. Karet
Harga karet (RSS) di bursa SICOM periode 7 – 11 September 2009 sedikit mengalami pergerakan dengan kisaran US$ 2140 hingga US$ 2200 (trend 0,70 %), terutama oleh adanya peningkatan harga minyak mentah. Harga masih meningkat dengan trend yang lebih rendah (0,25%) pada periode 14 – 18 September 2009 karena terpengaruh oleh adanya pertanda perbaikan ekonomi di AS bila dilihat dari perkembanagn retail. Dsb .
Sedang untuk kondisi Ekspor-Impor sektor kelautan dan perikanan :
Saat ini , walau Indonesia tidak sepenuhnya terdepan dalam memproduksi hasil laut namun Indonesia menjadi 3 besar negara yang memproduksi hasil lautnya setelah Peru dan China. Namun demikian Indonesia masih sangat jauh dengan China yakni China memproduksi hampir 14.8 juta ton sementara Indonesia hanya 5 juta ton. Sekalipun merupakan tiga besar dalam produksi ikan, Indonesia tidak termasuk dalam lima besar pengekspor ikan, bahkan kalah dibanding dengan Vietnam dan Thailand. Nilai ekspor ikan Indonesia “hanya” sekitar US $ 2,9 juta.

PENUTUP
Kesimpulan
            Negara kita masih lemah akan sistem-sistem yang lebih mutakhir untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Keputusan sepihak kadangkala merugikan pihak yang satunya. Negara lain punya sistem yang baik untuk mendapatkan prestasi di pasar Internasional akankah lebih baik menjadikan prestasi negara lain sebagai acuan. kita perlu menyadari bahwa topografi dan kewilaya-an Nusantara adalah kepulauan. Jadi, perlu ada political will dan good-will agar arah pembangunan ekonomi dapat merajut kepulauan untuk mendukung keterkaitan, kualitas, dan daya saing industri perikanan dan kelautan nasional. Makalah ini membahas mengenai ekspor-impor diberbagai bidang serta kondisi ekspor-ompor itu sendiri saat ini.


Daftar Pustaka:

Jumat, 03 Mei 2013

Tugas 1 - Sistem Pendidikan di Indonesia Terhadap Tingginya Jumlah Pegangguran


Tugas Tulisan

Sistem Pendidikan di Indonesia Terhadap Tingginya Jumlah Pegangguran
Tidak Meratanya Pendidikan

   ABTRAKSI
            Tidak meratnya pendidikan sekarang ini bukan lagi hal yang aneh atau hal yang baru dalam permasalahan yang terjadi di Indonesia. Contohnya saja seperti yang berada di daerah-daerah terpencil. Mereka harus berusaha untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Faktor-faktor yang tidak memungkinkan mereka untuk mendapatkan pendidikan yang baik pun menjadi hal utamanya. Dan ada lagi seprti yang kita ketahui, bekum lama ini UN tahun ini pun kacau, karena banyak hal-hal yang seharusnya tidak terjadi. Seperti telatnya datang soal, tidak meratanya pembagian soal, soal-soal yang rusak, UN yang di undur.
            Faktor-faktor tersebut sangat jelas tidak bagus atau tidak efisien sekali apalagi dalam keadaan dimana siswa harus menghadapi UN yang menentukan kelulusan mereka. Banyak juga provinsi-provinsi yang tidak melaksanakan UN karean faktor-faktor yang sangat menggangu sekali dalam sistem pendidikan ini. Dengan begitu jelas bahwa sisitem pendidikan Indonesia masih sangat perlu diperbaiki. Bagaimana semestinya yang dilakukan agar semua kejadian d atas tidak terjadi kembali. Sungguh sangat ironi jika melihat pendidikan sekarang.
            Semua kejadian ketidak meretaan, atau segala yang terjadi tentang pendidikan di Indonesia harus diperhatikan lagi oleh pemerintah. Agar tidak terulang lagi, dan pendidikan di Indonesia tidak dipandang sebelah mata oleh dunia. Agar berjalan dengan baik, semua generasi bisa merasakan pendidikan yang baik dan merata tanpa memandang status. Dan permasalahan UN tidak menjadi acuan kelulusan suatu siswa. Karena dengan nilai besar menjadi lulus pun itu belum tentu hasil kerja sendiri. Karena harunya kemampuan lah yang mejadi acuan di segala masalah pendidikan. Agar nantinya bisa menjadi skill yang baik untuk masa mendatang.

Pendahuluan
            Pendidian di era globalisasi sekarang tidak merata terutama di daerah-daerah terpencil. Banyak kali faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakmerataanya pendidikan tersebut. Fakto-faktor tersebut seperti kurangnya lapangan peerjaan, kurangnya SDM yang berkualitas, infrastruktur yang kurang, biaya yang tidak tepat, letak geografis, pengaruh gedget yang negatif atau penyalahgunaan gedget serta fasitilas yang kurang memadai. Semuaitu akan mengakibatkan dampak negatif pada sistem pendidikan di Indonesia, padahal penddikan merupakan faktor yang paling utama dalam membentuk karakteristik bangsa. Jika semua itu tidak di perbaiki maka akan timbul generasi yang tidak pas atau tidak bisa untuk membuat Indonesia maju, serta akan menciptakan generasi yang tidak siap bersaing di pasar tenaga kerja, yang berakibat akan bermunculan pengangguran–pengangguran baru.
            Selain masalah tidak meratanya pendidikan yang menyebabakan tingginya pengangguran di saat tingkat penddikan tinggi adalah dimana perguruan tinggi yang tidak mengajarkan cara bekerja, sehingga SDM hanya dapat teoritis. Sedangkn Indonesia sedang berjalan dari negara agraris menjadi negara industri. Masrakat induetri yang mempunyai ciri berfikir kritis, mampu besaing dan cerdas.  Kemudian yang di butuhkan pasar tenaga kerja adalah SDM yang siap kerja atau siap pakai. Yang menjadi acuan adalah lulusan SMK atau diploma, sedangkan perguruan tinggi lulusan diploma tidak terlalu banyak. Seangkan yang lulusan sarjana dibutuhkan disektor riset. Untuk itu perguruan tinggi harus mampu mengeluarkan lulusan yang mandiri dan profesional yang mengikuti perkembangan zaman.
            Disisi lain di luar sana tantangan untuk mendapatkan pekerjaan sangat sulit. Dimana pergururuan tinggi yang mengeluarkan lulusan secara besar-besaran diikuti meledaknya tenaga kerja yang produktif, maka persaingan semakin tajam, yang disisi lain daya tampung lapangan pekerjaan di Indonesi terbatas jika dibandingkan dengan SDM yang ada. Hal ini yang menyebabkan menigkatnya pengangguran terdidik. Tidak di pungkiri juga perguruan tinggi sekarang lebih banyak menghasilkan lulusan ketimbang lapangan kerja yang tersedia. Hal ini dapat mengakibatkan perguruan tinggi lebih berfungsi sabagai pencetak ijzah ketimbang lulusan yang memiliki kematangan ilmu dan kemandirian.
            Dengan kata lain sistem pendidikan di Indonesia masih berorientasi menghasilkan lulusan dengan tingkat kemndirian dan jiwa kewirausahawan yang rendah. Tingginya tingkat pengagguran dari lulusan perguruan tinggi difaktorkan juga karena skill kemampuan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja, lulusan perguruan tinggi tidak mempunyai keahlian apa pun dan tidak mampu bersaing di kanca pasar tenaga kerja. Dengan demikian perguruan tinggi yang melulusakan sarjana,diploma akan terus dipertanykan. Pertanyaanya sekarang bagaimana mengatasi kesenjangan tersebut

Landasan Teori
            Pendidikan merpakan masalah yang paling utama, selain masalah ekonomi dan politik yang ada di Indonesia. Tidak jarang kita mendengar prestasi yang ditorehakan anak Indonesia di bidang pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan Indonesia tidak bisa di remehkan begitu saja. Tetapi akhir-akhir ini pun banyak masalah yang mengenai pendidikan dari bebagai macam faktor.

             Pendidikan dalam arti kata didik (mendidiki) yang dalam arti kata memberi cara atau memberi pelatihan mengenari akhlak kecerdasan dan pikiran. Sedangkan pendidikan yaitu suatu proses pengubahan sikap dan tata laku menuju pendewasaan melalui pengajaran kepada seseorang, proses peatihan, cara mendidik.

            Pendidikan proses yang terus menerus dan tidak ernah berhenti. Didalam proses ini manusia di pegang erat dengan martabat dan tanggung jawab sebagai subjek. Oleh sebab itu manusia dituntut bertanggung jawab agar dapat tercapainya pendidikan yang baik.

            Maka hasil dari proses pendidikan yang jelas adalah harus adanya perubahasn sikap, tanggung jawab yang terjadi pada manusia. Perubahan-perubahan itu pun menyankut aspek jaasmani dan rohani manusia, Pendidikan menyadarkan manusia sebagai manusia yang sadar diri dan sadar lingkngan, Dengan itu manusia dapat memperbaiki lingkungan tanpa mengubah diri sendiri,

Pembahasan
1.    Masalah Dasar Pendidikan
            Kita ketahui pada dasarnya masalah yang masih rumit diseleaikan di Indonesia salah satunya adalah masalah pendidikan. Pendidika di Indonesia saat ini masih belum ada jalan keluar yang akurat. Entah apa dan bagaimana prosesnya. Pendidikan yang seharusnya bisa menjadikan manusia llebih baik malah sebaliknya, karena pendidikan yang di berikan berat sebelah. Dlam arti kata di beratkan oleh sistem pendidikan yang ada, kurang seimbangnya antar berpikir dan belajar, dan masih banyak lagi sebab-sebabnya.

            Ada beberpa faktor lagi yang membuar pendidikan di Indonesia ini semakin tidak seimbang. Seperti halnya banyak  yang masih belum bisa sekalah atau merasakan pendidikan, distribusi biaya yang salah tempat atau tidak sesuai sasaran, sistem dana yang tidak akurat, masih kurangnya fasilitas, kurangnya juga sumber daya manusia yang ada, kualitas pendidikan yag kurang, dan masih banyak lagi.

            Faktor-faktor itulah yang menyebabkan kualitas sumber daya manusia yang kurang, dan akibatnya saat setelah mereka berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi tidak dapat dibarengi cara-cara agar dapat mandiri dan bersaing di kanca pasar tenaga kerja. Serta tidak siap untuk berkompetisi dalam mendapatkan pekerjaan yang dengan daya tampungan lapangan pekerjaan yang terbatas.

2.    Tidak Meratnya Pendidikan
           Seperti yang sudah dijelaksan sebelumnya faktor yang mempengaruhi buruknya pendidikan Indonesia adalah tidak meratanya pendidikan. Masih banyak daerah-daerah terpencil yang belum tersentuh pendidikan. Hal ini meyebabkan jadi berkurangnya sumber daya manusia yang nantinya akan meneruskan generasi bangsa. Serta melahirkan generasi yang tidak baik untuk masa depan.

           Biasanya hal ini dapat disebabkan tidak dapatnya pendidikan dari pemerintah. Pemerintah yang tidak terlalu memperhatikan daerah-daerah pelosok. Serta juga tempat yang sulit terjangakau. Ada pula karena guru yang kurang berkualitas yang di datangkan disana sehingga pendidikan yang didapat pun kurang.

            Masalah ini harus diselesaikan dengan jalan lebih memperhatikan bagian-bagian daerah yang terpencil, memberikan fasilitas yang memadai agar para terdidik bisa merasakan pendidikan setara seperti di daerah-daerah besar, mengirimkan guru-guru atau pengajar yang berkualitas bahkan kalau perlu yang bersertifikat dan benar-benar bisa memberi pengajaran yang baik.


3.    Kurangnya Fasilitas yang Memadai
              Kurangnya fasilitas juga dapat mempengaruhi pendidikan. Pengajaran tidak akan berjalan dengan lancar dan kondusif jika fasilitas yang ada tidak memadai atau tidak mendukung proses belajar.

              Seperti halnya dengan gedung atau bangunan-bangunan, fasiltas di dalam gedung seperti  meja dan bangu. Jika semua itu tidak ada atau kurang bahkan rusak itu semua akan menggangu proses pengajaran dan membut belajar tidak kodusif. Dan ruang buku perpustakaan yang menyediakan berbagai macam buku, buku-bukanya pun harus lengkap dan berisi materi-materi yang pantas dibaca,

              Cara agar bisa kondusif harus ada bantuan atau dana yang dicairkan untuk membeli atau membangun fasilitas-fasilitas itu semua. Dengan begitu semua akan bisa merasakan pengajaran yang baik dan kondusif. Para terdidik dapat pengetahuan yang baru dan menjadi ilmu di masa depan.

4.     Biaya yang tidak Tepat sasaran
              Biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk mengurangi beban biaya pendidikan yang mahal ternyata sering sekali salah sasaran. Seperti dana BOS yang tidak cair atau malah di gunakan untuk masyarakat yang mampu. Hal ini akan meyebabkan kesenjangan uang akan membuat pendidikan di Indonesia semakin kacau. Pemerintah yang kuang memperhatikan turunya dana tersebut malah membuat proses pengajaran yang kacau dan tidak sesui yang diinginkan.

5.     Kualitas Pengajar
              Kuaitas pegajar juaga dapat mempengaruhi proses mendapatkan ilmu  yang tepat dan benar. Jika pengajar tidak bisa mengajar dengan baik atau tidak bisa menyampaikan ajaran dengan baik akan berpengaruh pada pola pikir mausia yang diajarnya. Maka dari itu pengajar yang disediakan pun harus benar-banar bisa dipercaya untuk memberikan pelajaran, yang mempunyai kualitas dan tidak seenaknya dalam mengajar.

6.    Sistem Pendidikan
            Sudah banyak yang diketahui bahwa sistem pendidikan Indonesia saat ini belum bisa membuat generasi menjadi generasi yang bekualitas yang dan mampu bersaing dengan manusia lain di kanca pasar tenaga kerja. Dan menjadi manusia yang siap pakai. Dari masih sebagian anak Indonesia berprestasi seharusnya pendidikan Indonesia tidak diragukan lagi. Tetapi perhatian pemerintah yang kurang dan segala kekurangan yang ada membuat pendidikan Indonesia tetap saja kurang.

            Seharusnya ini semua dapat dilakukan oleh setiap lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan sperti itu, Para pengajar yang memberikan pengajaran tentang bagaimana cara agar bisa menjadi lulusan yang siap pakai. Lembaga pendidikan yang tidak hanya megajarkan teori-teori tanpa memberikan praktik diluar lapangan. Lembaga pendidikan ini harus bisa menyamai perkembangan jaman yang membtuhkan tenaga kerja yang sesuai dengan perusahaan-perusahaan yang dibutuhkan.

            Sistem Indonesia juga tidak hanya membuat pengaturan-pengaturan yang memberatkan sebelah. Sistem harus bisa merata dan menguntungkan semua pihak terutama pihak para terdidik. Jika lembaga pendidikan tidak mengimbangi pasar tenaga kerja, maka pengangguran akan tetap semakin banyak yang lulusan sarjana, Dan sarjana hanya bisa menjadi title tanpa bisa mensukseskan lulusan itu sendiri..

7.     Agar lulusan dapat bersaing di kanca Pasar Tenaga Kerja
             Dari penjeasan di atas bahwa lulusan perguran tinggi sekaang haya bermodalkan ijazah tanpa adanya skill yang dia punya. Jika dia tidak punya skill tersebut akan sulit untuk memasuki pasar tenaga kerja dan kalah bersaing dengan mausia produktif yang siap kerja. Yang seharusnya dia bisa mejadi lebih baik dari lulusan lainnya malahan lebih jatuh. Ini akan menyababkan tingkat pengangguran yang makin tinggi karena dia harus menunggu lama untuk mendapat panggilan pekerjaan yang sesuai dengan kualitas yang dia miliki.
Maka dari itu setiap perguruan tinggi jangan hanya bisa meluluskan mahasiswa yang tanpa mampunyai skiil untuk bekerja. Perguruan tinggi harus bisa mengimbangi antara pendidikan yang diberikan secara teori dan pendidikan praktik untuk membentuk jiwa mandiri dan kewirausahaan yang tinggi. Dengan begitu lulusan tidak akan lagi takut untuk bersaing dan siap pakai untuk semua perusaahaan industri atau kantor.

              Perguruan tinggi juga harus dapat memberikan pengajaran tentang bagaimana bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Karena yang namanya sarjana pada dasarnya dia bekerja bisa lebih tinggi dari pada orang lain yang lulusannya hanya SMA, SMK atau diploma. Dengan begitu lulusan perguruan tinggi bisa dapat dipertanggung jawabakan dengan skill yang dia punya untuk bekerja. Serta dengan begitu akan dapat mengurangi pengangguran yang terjadi.

            Jadi, dengan demikian solusi yang dapat dilakukan agar lulusan dapat mampu bersaing di pasar tenga kerja adalah dengan kemampuan perguruan tinggi membentuk sistem pengajaran yang dapat menciptakan lulusan yang mengerti arti bersaing dalam pekerjaan saat lulus, mengajarkan membuat lapangan pekerjaan, dan dapat menjadi manusia yang siap pakai.

Penutup
Kesimpulan :
            Dari tulisan di atas dapat disimpulkan bahwa penyabab lulusan sarjana malah menjadikan pengangguran semakin tingg adalah tidak meratanya pendidikan yang diberikan pemerintah seperti di daerah-daerah terpancil, Kemudian kurangnya fasilitas yag memadai untuk menunjang aktifitas pendidikan yang sedang berlangsung yang menyabakan tidak kondusifnya proses pengajaran. Sumber daya manusia yang kurang. Ini harus benar-benar diperhatikan, sumber daya manusia yang disiapkan harus berkualitas dan bisa mengajarkan dengan baik yang bisa menyampaikan ajaran dengan baik dan benar sesuai tata cara yang telah ditentukan.

            Kemudian masalah biaya yang tidak tepat sararan seharusya juga lebih diperhatikan lagi. Banyak kejadian yang menyimpang jika membahas masalah biaya ini. Oleh karena itu saat diturunkannya kebijakan BOS harus diperhatiakn benar-banar siapa saja yang dapat jangan samapai salah memberikan. Lalu ada lagi masalah sistem pendidikan yang suka bergonta ganti dan para terdidik harus mengikuti kebijakan yang suka berubah-ubah tersebut. Disisi lain yang sebenarnya banyak anak yang berprestasi yang seharusnya penidikan Indonesia tidak diragukan lagi. Tetapi kurangnya perhatian pemerintah ang membuat pendidikan Indonesia tetap saja kurang.

            Kemudian saat perguruan tinggi yang melulusan sarjana tanpa mempunya skiil sangat dipertanyakan. Ini membuat lulusan kaku dan tidak dapat mengikuti perembangan pasar tenanga kerja. Lembaga pendidikan atau perguruan tinggi seharusnya bisa mamberikan pengajaran untuk menjadika lulusan yang mandiri dan berjiwa kewirausahawan dan dapat mencitptakan lulusan yang mampu membuat lapangan pekerjaan. Perguruan tinggi harus membentuk sistem pelajaran yang membeikan pelajaran tentang kewirausahawan tidak hanya teori tetapi praktik di luar lapangan, dengan begitu mahasisawa tau bagaiman keadaan diluar di kanca pasar tenaga kerja yang mempunyai saingan yang cukup tinggi dengan lapangan pekerjaan yang terbatas.

            Dengan begitu lulusan bisa siap pakai dan mampu bersaing di kanca perindustrian kerja dan pasar tenaga kerja. Serta dapat mengurangi tingkat pengangguran dengan pendidikan tinggi. Jadi mahasiswa tidak hanya lulus bermodalkan ijazah tetapi juga mempunyai skill dan kemmpuan untuk bekerja. Kalau bisa menciptakan lapangan pekerjaan.



Daftar Pustaka